Pengembangan Instrumen Tes
Dosen Pengampu:
Yumn Jamilah, M.Pd.T.
Oleh:
Anisa Eka Safitri (1911010015)
Kelas/Semester:
D/5
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN AKADEMIK 2021
Menganalisis Hasil Uji Coba Instrumen Penilaian Agama Islam di MI/SD
Alat evaluasi yang kurang baik dapat mengakibatkan hasil penilaian menjadi bisa atau tidak sesuainya hasil penilaian dengan kenyataan yang sebenarnya. Jika terjadi demikian, perlu ditanyakan apakah persyaratan instrumen yang digunakan menilai sudah sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan instrumen.
Dalam analisis instrumen hasil belajar ada empat metode yang dapat digunakan, yaitu:
1. Indeks kesukaran
Instrumen yang baik terdiri dari butir-butir instrumen yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Butir soal yang terlalu mudah tidak mampu merangsang audiens mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya, kalau terlalu sukar membuat audiens putus asa dan tidak memiliki semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya. Di dalam istilah evaluasi indeks kesukaran ini diberi simbol p yang dinyatakan dengan "proporsi".
Rumus mencari P adalah :
P = B/JS
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Contoh:
Ada 25 orang dengan nama kode A s.d S yang mengerjakan tes yang terdiri dari 25 soal. Jawaban tesnya dianalisis:
1 = jawaban betul
0 = jawaban salah
- Soal nomor 7 mempunyai taraf kesukaran, P = 10/25 = 0.4
- Soal nomor 15 adalah soal yang tersukar karena hanya dapat dijawab betul oleh 3 orang, P = 3/25= 0.12
- Soal nomor 23 adalah yang paling mudah karena seluruh siswa peserta tes dapat menjawabnya, P = 25/25= 1
Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:
• Soal dengan P 0,01 sampai 0,30 adalah soal sukar
• Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
• Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.
2. Daya beda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat D.
Seperti halnya indeks kesukaran, indeks diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, indeks kesukaran tidak mengenal tanda negatif (-), tetapi pada indeks diskriminasi ada tanda negative. Tanda negatif pada indeks diskriminasi digunakan jika suatu soal "terbalik" menunjukan kualitas tester. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak bodoh disebut pandai.
Dengan demikian ada tiga titik pada daya pembeda yaitu:
-1,00 : Daya pembeda negatif
0,00 : Daya pembeda rendah
1.00 : Daya pembeda tinggi (positif)
Rumus mencari D:
D = BA/JB - BB/JB = PA-PB
Keterangan :
J = Jumlah peserta tes
JA = Banyaknya peserta kelompok atas
JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar.
PA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P sebagai indeks kesukaran)
PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.
Contoh:
Dari hasil analisa tes yang terdiri dari 15 butir soal yang dikerjakan oleh 25 orang siswa. Berdasarkan nama-nama siswa dapat kita peroleh skor-skor sebagai berikut:
A = 5
B = 7
C = 8
D = 5
E = 5
F = 8
G = 8
H = 6
I = 3
J = 8
K = 5
L = 8
M = 7
N = 6
O = 10
P = 7
Q = 9
R = 6
S = 5
T = 9
U = 4
V = 7
W = 5
X = 6
Y = 4
Dari angka-angka yang belum teratur kemudian dibuat array (urutan penyebaran), dari skor yang paling tinggi ke skor yang paling rendah.
- Kelompok atas
10 9 9 8 8 8 8 8 7 7 7 7
(12 orang)
- Kelompok bawah
6 6 6 6 5 5 5 5 5 5 4 4 3
(13 orang)
Array ini sekaligus menunjukan adanya kelompok atas (JA) dan kelompok bawah (JB) dengan pemiliknya sebagai berikut :
B = 7
C = 8
F = 8
G = 8
J = 8
L = 8
M = 7
O = 10
P = 7
Q = 9
T = 9
V = 7
(12 orang)
A = 5
D = 5
E = 5
H = 6
I = 3
K = 5
N = 6
R = 6
S = 5
U = 4
W = 5
X = 6
Y = 4
(13 orang)
Pada tabel analisa 15 butir soal 25 siswa. Dibelakang nama siswa dituliskan huruf A atau B sebagai tanda kelompok. Hal ini untuk mempermudah menentukan BA dan BB. BA = banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok atas (A) dan BB = Banyak siswa yang menjawab benar pada kelompok bawah (B).
Pada soal nomor 5:
- Dari kelompok atas yang menjawab betul 9 orang
- Dari kelompok bawah yang menjawab betul 4 orang
Kita terapkan dalam rumus indeks diskriminasi :
JA = 12
PA = 0,9
JB = 13
PB = 0,4
BA = 9
BB = 4
Maka D = PA-PB = 0,9-0,4 = 0.5
Dengan demikian maka indeks diskriminasi untuk soal nomor 5 adalah 0,5
Sekarang kita perhatikan butir soal nomor 12 :
JA = 12
PA = 0,7
JB = 13
PB = 0,8
BA = 7
BB = 8
Maka D = PA-PB = 0,7-0,8 = -0.1
Butir soal ini jelek, lebih banyak dijawab benar oleh kelompok bawah dibandingkan dengan jawaban benar dari kelompok atas. Ini berarti untuk menjawab soal dengan benar, dapat dilakukan dengan menebak.
Butir-butir soal yang baik adalah butir-butir soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 sampai 0,7
Klarifikasi daya pembeda :
D = 0,00 - 0,20 : jelek (poor)
D = 0,20 - 0,40 : cukup (satisfactory)
D = 0,40 - 0,70 : baik (good)
D = 0,70 - 1,00 : baik sekali (excellent)
D = negatif, semuanya tidak baik. jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.
3. Keberfungsian Distraktor
Analisis fungsi distraktor dilakukan khusus untuk soal bentuk objektif model pilihan ganda (multiple choice item). Didalam soal pilihan ganda dilengkapi dengan beberapa alternatif jawaban yang disebut dengan opsi. Opsi biasa berkisar antara 3 sampai dengan 5 buah. Dari opsi tersebut terdapat salah satu jawaban yang benar dan itu yang disebut dengan kunci jawaban, sedangkan sisanya merupakan jawaban salah yang disebut dengan distraktor (pengecoh).
Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila:
a. Paling tidak dipilih oleh 5% peserta tes.
b. Lebih banyak dipilih oleh kelompok bawah.
4. Pengenalan rasch
Model rasch sering disebut dengan item analisis. Item analisis untuk tes krilerion yang juga sering disebut penilaian acuan patokan, pada prinsipnya juga melihat setiap item atas dasar tingkat kesulitan dan indeks pembeda yang dapat diuraikan seperti berikut:
a. Tingkat Kesulitan
Tingkat kesulitan untuk tes kriterion tidak terlalu mendasarkan pada kemampuan item dalam membedakan antara tinggi dan rendahnya siswa dalam menjawab soal pada suatu grup kelas. Kesulitan setiap item tes kriterion pada prinsipnya ditentukan oleh hasil belajar yang ingin diukur. Jika tugas dalam hasil pembelajaran memiliki tingkat kesulitan tinggi maka tes yang dibuat oleh evaluator juga direncanakan memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Dalam tes mengacu pada penilaian acuan patokan, tidak ada usaha yang dibuat untuk mengubah tingkat kesulitan item tanpa melihat tugas dalam proses pembelajaran.
b. Indeks Pembeda
Kemampuan item tes untuk membedakan antara siswa yang menjawab benar dalam kelompok tinggi dan siswa yang menjawab benar dalam kelompok rendah pada umumnya tidak terlalu penting untuk tes yang disusun dengan penilaian acuan patokan. Ada kemungkinan suatu item mempunyai indeks pembeda rendah atau mendekati 0; ini berarti para siswa dalam satu keklas memiliki dua peluang, yaitu:
1) Semua menjawab benar, atau sebaliknya
2) Semua menjawab salah.
Dalam analisis item dengan penilaian acuan normatif, maka item tersebut harus dibuang, karena tidak memiliki daya pembeda. Sebaliknya, pada analisis item dengan penilaian acuan patokan, item tersebut tetap memberikan informasi penting, yakni tentang siswa dalam penampilan hasil pembelajaran di kelas.
Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan oleh seorang evaluator dalam menganalisis item penilaian acuan patokan adalah apakah item-item tes telah benar-benar mengukur pengaruh instruksional atau pengajaran seorang guru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seorang guru perlu menerapkan prinsip eksperimen semu (quasi experiment) di kelas. Eksperimen semua ini dapat dilakukan, salah satu caranya dengan memberikan tes yang sama dua kali. Pertama, pada saat pembelajaran berakhir, sebagai hasil pretes; kedua, sesudah proses pembelajaran berakhir, sebagai hasil postes, hasil yang dicapai adalah dapat diperolehnya indeks sensitivitas pengarung pengajaran (S) yang mengikuti formula seperti berikut:
S = Ra-Rb/T
Dimana :
S = Sensitivitas pengaruh pengajaran
Ra = Jumlah siswa menjawab benar sesudah proses pengajaran
Rb = Jumlah siswa menjawab benar sebelum proses pengajaran
T = Total siswa yang mengikuti kedua proses testing.
Contoh:
Seorang guru hendak menerapkan analisis item untuk mendapatkan nilai sensitivitas pengaruh pengajaran pada sejumlah siswa dalam mata pelajaran Al-Qur'an Hadits. Hasilnya sebagai berikut:
Pretes : b
Postes : a
Siswa
1. A = b (5), a (0)
2. B = b (0), a (0)
3. C = b (2), a (5)
4. D = b (5), a (5)
5. E = b (0), a (5)
Apabila formula sensitivitas di atas digunakan untuk analisis item dalam suatu tes, maka akan diperoleh lima kemungkinan hasil sebagai berikut.
S = Ra-Rb/T
- Item 1, S = 0-5/5 = -1,00
(skor ini merusak, karena tidak menunjukkan adanya sensitivitas pengaruh pengajaran.)
- Item 2, S = 0-0/5 = 0,00
(skor sangat sukar, tidak memiliki daya pembeda.)
- Item 3, S = 5-2/5 = 0,60
(skor ini efektif, karena mempunyai nilai sensitivitas 0.60)
- Item 4, S = 5-5/5 = 0,0
(skor sangat mudah, tidak memiliki daya pembeda)
- Item 5, S= 5-0/5 = +1,00
(skor ideal karena memiliki pengaruh sangat baik)
Item ideal atau sempurna pada tes kriterion menghasilkan indeks 1,00. Dalam implementasi, item nilai indeks dikatakan efektif pada umumnya mempunyai nilai 0,00 sampai 1.00. Semakin tinggi nilai positif, dapat diartikan item lebih sensitif terhadap pengaruh pengajaran hasil belajar. Sebaliknya, item dengan nilai 0.0 dan nilai negatif berarti tidak merefleksikan pengaruh pengajaran yang terencana. Dalam tes kriterion pada umumnya selalu ada jawaban penjebak (distracter).
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Suharsimi arikunto. 1993 Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
http://nurmaresti.wordprcss.com/2013/01 /06/cvaluasi-jcnis-non-tes/
http://www.nihayatulamai.com/index.php?option=com_content&view=article&id=35yo3Avvorkshop-analisis-soal&catid=6yo3Aguru-article&limitstart=2
http://wwwqolbu.blogspot.com/2013/10/teknik-instrumen-evaluasi-hasil-Belajar.html
http://gadisgigikelinci.blogspot.com/2015/03/kemampuan-menganalisis-instrumen_93.html?m=1
Komentar
Posting Komentar